Jenis Lisensi Perangkat Lunak, Baca Sebelum Pakai!

Apa itu Lisensi?

Lisensi perangkat lunak adalah kontrak legal antara pembuat perangkat lunak (software) dan pengguna (user) yang menentukan hak dan kewajiban kedua belah pihak terkait penggunaan perangkat lunak tersebut. Ini penting untuk diingat karena setiap lisensi memiliki peraturan yang berbeda-beda, dan jika tidak diikuti, dapat menyebabkan masalah hukum. Oleh karena itu, kita akan membahasa Jenis-jenis Lisensi Perangkat Lunak yang ada.

Jenis lisensi perangkat lunak yang paling umum digunakan adalah lisensi proprietary atau closed source dan lisensi open source.


Lisensi proprietary atau closed source

Perangkat lunak dengan lisensi ini dikembangkan dan dikelola oleh perusahaan atau individu tertentu, dan pengguna hanya diizinkan untuk menggunakannya tanpa diizinkan untuk mengakses, menyalin, menyebarluaskan, atau memodifikasi kode sumber. Contoh perangkat lunak dengan lisensi ini adalah Microsoft Windows dan Adobe Photoshop. Biasanya perusahaan atau individu yang membuat software ini mengenakan biaya lisensi.

Lisensi proprietary atau closed source dalam dasarnya hanya terdiri dari satu jenis, yaitu lisensi yang mengizinkan pengguna untuk menggunakan perangkat lunak tanpa diizinkan untuk mengakses, menyalin, menyebarluaskan, atau memodifikasi kode sumber. Namun, dalam praktiknya, beberapa perusahaan atau individu yang mengembangkan perangkat lunak dapat menambahkan peraturan tambahan atau syarat-syarat khusus dalam lisensi yang diterbitkan.

Beberapa contoh peraturan tambahan yang mungkin diterapkan pada lisensi proprietary atau closed source:

  1. Batasan jumlah komputer yang diizinkan untuk menggunakan perangkat lunak.
  2. Batasan waktu penggunaan perangkat lunak, misalnya hanya diizinkan untuk digunakan selama jangka waktu tertentu setelah lisensi dibeli.
  3. Batasan penggunaan perangkat lunak, misalnya hanya diizinkan untuk digunakan untuk tujuan tertentu saja.
  4. Batasan pembahasan kode sumber, misalnya diizinkan untuk membahas kode sumber dengan rekan kerja atau klien, tetapi tidak diizinkan untuk membahas dengan pihak lain.
  5. Batasan modifikasi pada kode sumber, misalnya hanya diizinkan untuk membuat modifikasi pada kode sumber dengan izin tertentu saja dari perusahaan atau individu yang mengeluarkan lisensi.

Tetap penting untuk membaca dan memahami seluruh peraturan yang berlaku pada lisensi proprietary atau closed source yang digunakan, karena setiap perusahaan atau individu dapat menambahkan peraturan tambahan yang berbeda-beda.


Lisensi open source

perangkat lunak dengan lisensi ini dikembangkan oleh komunitas pengguna dan pengembang, dan kode sumbernya dapat diakses, disalin, didistribusikan, dan dimodifikasi oleh siapa saja. Contoh perangkat lunak dengan lisensi ini adalah Linux, Apache, dan Firefox. Lisensi open source ini selalu gratis untuk digunakan, dipelihara, dan dikembangkan oleh siapapun.

Lisensi open source juga memiliki beragam jenis atau turunan. Beberapa jenis lisensi open source yang umum digunakan adalah:

  1. GNU General Public License (GPL): Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses, menyalin, menyebarluaskan, dan memodifikasi kode sumber perangkat lunak, tetapi semua modifikasi yang dibuat harus dibagikan kembali dengan lisensi yang sama. Contoh perangkat lunak yang menggunakan lisensi ini adalah Linux dan WordPress.
  2. MIT License: Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses, menyalin, menyebarluaskan, dan memodifikasi kode sumber perangkat lunak tanpa syarat tertentu. Contoh perangkat lunak yang menggunakan lisensi ini adalah Ruby on Rails dan React.
  3. Apache License: Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses, menyalin, menyebarluaskan, dan memodifikasi kode sumber perangkat lunak, tetapi perusahaan atau individu yang membuat modifikasi harus mencantumkan pemberitahuan hak cipta dari pembuat asli dalam dokumentasi atau file README. Contoh perangkat lunak yang menggunakan lisensi ini adalah Apache HTTP Server dan Android.
  4. BSD License: Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses, menyalin, menyebarluaskan, dan memodifikasi kode sumber perangkat lunak tanpa syarat tertentu, tetapi perusahaan atau individu yang membuat modifikasi harus mencantumkan pemberitahuan hak cipta dari pembuat asli dalam dokumentasi atau file README. Contoh perangkat lunak yang menggunakan lisensi ini adalah FreeBSD dan OpenSSL.

Lisensi open source memiliki beberapa jenis lisensi yang berbeda dengan syarat yang berbeda pula. penting untuk membaca dan memahami seluruh peraturan yang berlaku pada lisensi open source yang digunakan, karena setiap lisensi memiliki syarat yang berbeda-beda.


Lisensi freeware

Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk menggunakan perangkat lunak tanpa harus membayar, tetapi tidak diizinkan untuk menyalin, menyebarluaskan, atau memodifikasi kode sumber. Contoh perangkat lunak dengan lisensi ini adalah VLC Media Player dan GIMP.


Lisensi shareware

Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mencoba perangkat lunak selama jangka waktu tertentu, tetapi untuk menggunakannya secara permanen, pengguna harus membayar lisensi. Contoh perangkat lunak dengan lisensi ini adalah WinZip dan WinRAR.


Lisensi dua tingkat

Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses kode sumber perangkat lunak, tetapi hanya untuk tujuan pengembangan internal dan tidak diizinkan untuk menyebarluaskan atau menjual modifikasi yang dibuat. Lisensi ini sering digunakan dalam perusahaan yang ingin mengembangkan perangkat lunak sendiri, tetapi tidak ingin mengungkapkan kode sumber kepada publik.

“Lisensi dua tingkat” adalah istilah yang mungkin tidak begitu umum dalam dunia perangkat lunak, namun istilah ini digunakan untuk menjelaskan lisensi yang mengizinkan pengguna untuk menggunakan perangkat lunak dengan dua tingkat kebebasan yang berbeda.

Sebagai contoh, lisensi dua tingkat dapat mengizinkan pengguna untuk menggunakan perangkat lunak secara gratis untuk tujuan non-komersial, tetapi jika ingin digunakan untuk tujuan komersial, maka pengguna harus membayar lisensi. atau juga dapat mengizinkan pengguna untuk mengakses kode sumber perangkat lunak secara gratis, tetapi jika ingin mengkomersialkan produk yang dihasilkan dari modifikasi kode sumber tersebut, maka harus membayar lisensi.

Ini sangat berbeda dengan lisensi freeware atau shareware, dimana yang menetapkan batasan dalam penggunaan perangkat lunak itu sendiri, sementara lisensi dua tingkat menetapkan batasan dalam bagaimana perangkat lunak tersebut digunakan. Istilah ini kurang umum digunakan dan tidak seterkenal dengan lisensi open source, proprietary atau closed source.

Beberapa jenis lisensi dua tingkat yang umum digunakan adalah :

  1. Dual-licensing: Lisensi ini memberikan pilihan bagi pengguna untuk memilih antara lisensi open-source atau proprietary. Pengguna dapat menggunakan perangkat lunak dengan lisensi open-source secara gratis, tetapi jika ingin mengkomersialkan produk yang dihasilkan dari modifikasi kode sumber tersebut, maka harus membayar lisensi proprietary.
  2. Open-core licensing: Lisensi ini menyediakan versi dasar perangkat lunak secara gratis, dengan fitur tambahan yang hanya tersedia dengan lisensi berbayar. Misalnya perangkat lunak dengan versi dasar gratis memiliki fitur dasar saja sementara fitur lanjutan hanya dapat di akses dengan lisensi berbayar
  3. Freemium: Lisensi ini menyediakan versi gratis perangkat lunak dengan fitur yang terbatas, dan pengguna harus membayar untuk mengakses fitur tambahan atau untuk mendapatkan dukungan dan update.

Lisensi dua tingkat ini memang tidak terlalu populer dibandingkan dengan jenis lisensi lain, dan tidak digunakan secara luas. Namun jenis lisensi ini diterapkan untuk beberapa perangkat lunak untuk mengoptimalkan keuntungan dari penjualan dari perangkat lunak tersebut.


Lisensi Creative Commons

Ada pula lisensi Creative Commons yang digunakan untuk konten-konten seperti musik, video, gambar, dan teks, yang memberikan hak pada pengguna untuk menggunakan, mendistribusikan, dan memodifikasi konten tersebut, tetapi dengan syarat-syarat tertentu.

Selain itu, ada juga lisensi yang diterapkan pada perangkat lunak komersial yang memungkinkan beberapa bentuk distribusi, namun dengan syarat-syarat dan batasan tertentu seperti Lisensi perangkat lunak commercial yang hanya digunakan untuk tujuan komersial saja.

Lisensi Creative Commons memiliki beberapa jenis atau turunan. Lisensi Creative Commons dibagi menjadi 6 jenis, yaitu:

  1. Attribution (CC BY): Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses, menyalin, menyebarluaskan, dan memodifikasi karya, asalkan pembuat asli diberi kredit.
  2. Attribution Share Alike (CC BY-SA): Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses, menyalin, menyebarluaskan, dan memodifikasi karya, asalkan pembuat asli diberi kredit dan modifikasi yang dibuat harus dibagikan dengan lisensi yang sama.
  3. Attribution No Derivatives (CC BY-ND): Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses, menyalin, dan menyebarluaskan karya, asalkan pembuat asli diberi kredit dan karya tidak boleh dimodifikasi.
  4. Attribution Non-Commercial (CC BY-NC): Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses, menyalin, menyebarluaskan, dan memodifikasi karya, asalkan pembuat asli diberi kredit dan karya hanya boleh digunakan untuk tujuan non-komersial.
  5. Attribution Non-Commercial Share Alike (CC BY-NC-SA): Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses, menyalin, menyebarluaskan, dan memodifikasi karya, asalkan pembuat asli diberi kredit, karya hanya boleh digunakan untuk tujuan non-komersial, dan modifikasi yang dibuat harus dibagikan dengan lisensi yang sama.
  6. Attribution Non-Commercial No Derivatives (CC BY-NC-ND): Lisensi ini mengizinkan pengguna untuk mengakses, menyalin, dan menyebarluaskan karya, asalkan pembuat asli diberi kredit, karya hanya boleh digunakan untuk tujuan non-komersial dan karya tidak boleh dimodifikasi.

Itu adalah enam jenis lisensi Creative Commons yang umum digunakan. Setiap jenis lisensi ini menawarkan tingkat perlindungan yang berbeda bagi pembuat asli karya dan mengatur batasan dalam cara karya tersebut dapat digunakan dan dipergunakan. Creative Commons menawarkan fleksibilitas bagi pembuat asli untuk memilih lisensi yang sesuai dengan tujuan dan preferensi mereka, sekaligus memberikan kepastian bagi pengguna karya tentang batasan yang berlaku.


Penutup

Sebagai pengguna perangkat lunak, penting untuk membaca dan memahami seluruh peraturan yang berlaku pada lisensi perangkat lunak yang digunakan, dan juga selalu berkonsultasi dengan pakar hukum jika ada keraguan tentang peraturan yang berlaku.

Dalam rangka menjaga keabsahan, pembuat software juga melakukan proses pengawasan lisensi yang digunakan oleh pengguna software tersebut, sehingga dapat mengetahui apakah software yang digunakan sudah sesuai dengan lisensi yang diterbitkan atau tidak.

Similar Posts