Amin dalam Ilmu Tajwid
Ketika mengajar tajwid, ada beberapa kali saya ditanyakan tentang bagaimana cara membaca amin yang benar. Mana yang pendek dan mana yang panjang? Jika panjang, berapa panjangnya?
Maka untuk menjawabnya, kita tidak merujuk pada ilmu tajwid. Karena ruang lingkup ilmu tajwid hanyalah al-Quran, sementara bacaan amin bukanlah al-Quran. Sehingga cara baca amin tidak terikat oleh kaidah-kaidah tajwid.
Maka kita bisa membahasnya secara ilmu Fiqih dan bahasa Arab. Dan dalam kitab-kitab Fiqih sudah ada pembahasan secara bahasa. Dan dalam kitab Fiqih, pembahasan amin ini memiliki banyak pembahasan secara mendalam. Maka oleh karena itu, tulisan ini hanya fokus kepada cara baca amin dari sisi panjang pendeknya, yang ada dalam pembahasan shighatut Ta’min.
Sekilas Fiqih Membaca Amin
Dalam kitab Raudhatuth Thalibin wa ‘Umdatul Muftin jilid 1, hal. 247, imam an-Nawawi menjelaskan bahwa membaca amin merupakan salah satu sunnah dibaca setelah al-Fatihah, baik di dalam shalat maupun di luar shalat. Dan sebelum membaca amin tersebut, disunnahkan untuk diam sejenak (saktah singkat), untuk membedakan lafaz amin dengan al-Quran. Dan lafaz amin ini sunnah diucapkan oleh imam, makmum maupun oleh yang shalat sendiri, serta dijaharkan dalam shalat jahar.
Dalam kitab At-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran, hal. 131, dan dalam kitab al-Azkar min Kalami Sayyidil Abrar¬, hal. 57, Imam an-Nawawi menjelaskan bahwa disunnahkan juga agar amin makmum bersamaan dengan amin imam, baik pada memulai amin maupun pada mengakhiri amin. Tidak ada yang disunnahkan bacaan imam serentak dengan bacaan makmum kecuali pada saat mengucapkan amin. Adapun ucapan lainnya maka bacaan makmum adalah setelah bacaan imam.
Keutamaan Membaca Amin
Mengucapkan amin ini memiliki beberapa keutamaan, di antaranya adalah, pertama, mentauladani Nabi dan mengamalkan perintah Nabi Muhammad Saw.. Yang kedua, sebagai doa kepada Allah agar Allah mengabulkan permintaan dalam al-Fatihah, karena makna amin adalah: ya Allah kabulkanlah. Yang ketiga, mendapatkan ampunan dosa-dosa sebelumnya. Hal ini sebagaimana penjelasan dalam hadis Rasulullah Saw.:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا أَمَّنَ الْإِمَامُ فَأَمِّنُوا فَإِنَّهُ مَنْ وَافَقَ تَأْمِينُهُ تَأْمِينَ الْمَلَائِكَةِ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَقَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ آمِينَ. (رواه البخاري).
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a., bahwa Rasulullah Saw. bersabda: “Jika imam mengucapkan amin, maka hendaknya kalian juga mengucapkan amin. Sesungguhnhya, barangsiapa yang aminnya bersamaan dengan amin malaikat, maka akan diampuni dosa-dosanya di masa lalu.” Dan Ibnu Syihab berkata: “Rasulullah Saw. mengucapkan amin.” (HR. Bukhari).
Empat Cara Membaca Lafaz Amin
Dalam kitab at-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran, Imam an-Nawawi menukilkan empat cara baca amin, yang pertama: “a” dibaca panjang dan tidak ada tasydid pada huruf Mim. Kedua, “a” dibaca pendek dan tidak ada tasydid pada huruf Mim. Ketiga, “a” dibaca panjang dengan imalah serta tidak ada tasydid pada huruf Mim. Yang keempat, “a” dibaca panjang dan ada tasydid pada huruf Mim.
Adapun tentang panjang “min”, tidak ada pembahasan, karena pasti dibaca panjang. Jika “min” dibaca pendek, maka pasti salah. Maka, mari kita lihat satu persatu dari empat cara baca ini:
1. Cara Baca Pertama
“A” dibaca panjang dan tidak ada tasydid pada huruf Mim. Bacaan seperti ini, amin bermakna, “Ya Allah kabulkanlah.” Dalam kitab al-Majmu’ Syarah al-Muhazzab, jilid 3, halaman 327, Imam an-Nawawi berkata, bahwa cara baca amin seperti ini adalah yang paling fashih, yang paling masyhur dan yang paling baik. Demikian juga pernyataan Imam an-Nawawi dalam dalam kitab Syarh Shahih Muslim, jilid 4, hal. 91-92.
Dalam kitab Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, jilid 2, halaman 306, Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani mengatakan, bahwa cara baca amin seperti ini adalah cara baca yang ada pada seluruh riwayat dari seluruh Qurra. Ada juga yang membaca “a” dengan imalah dari Imam Hamzah dan Imam al-Kisai.
2. Cara Baca Kedua
“A” dibaca pendek dan tidak ada tasydid pada huruf Mim. Dalam kitab Lisanul ‘Arab karangan Imam Ibnu Manzhur, pada jilid 1, hal. 166 – 167, beliau berkata bahwa amin, “a” dibaca panjang maupuan “a” dibaca pendek, keduanya artinya sama, yaitu, “Ya Allah, kabulkanlah.” Imam Ibnu Manzhur tidak mengomentari mana bahasa yang lebih fashih atau lebih masyhur.
Dalam kitab at-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran, hal. 129, Imam an-Nawawi mengatakan bahwa para ulama mengatakan bahwa, cara baca yang pertama dan kedua ini adalah keduanya masyhur.
Dalam kitab Ahkamul Quran, karangan Imam Ibnul ‘Arabi al-Maliki, jilid 1, halaman 6, bahwa bacaan seperti ini adalah lebih masyhur dan lebih banyak digunakan.
Dalam kitab al-Mishbahul Munir fi Gharibisy Syarhil Kabir, jilid 1 halaman 24, Imam Ahmad al-Muqri mengatakan bahwa, Amin dengan “a” pendek adalah bahasa penduduk Hijaz, sementara dengan “a” dibaca panjang adalah bahasa Bani ‘Amir. Dan yang dimaksud dengan mad di sini adalah sepanjang isyba’, karena tidak ada kata yang berwazan (فاعيل).
Dalam kitab Syarah Syuzuruz Zahab fi Ma’rifati Kalamil ‘Arab, karangan Imam Ibnu Hisyam, halaman 152, beliau berkata: “Lafaz amin dengan “a” pendek, sesuai dengan wazan (قدير) dan (بصير). Dan bacaan seperti ini adalah paling fashih secara qiyas, akan tetapi paling sedikit digunakan, sehingga sebagian ulama mengingkarinya.
Namun Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani menggolongkan amin dengan “a” dibaca pendek sebagai bahasa yang syazzah (tidak wajar/langka). Sebagaimana dalam kitab Fathul Bari Syarah Shahih Bukhari, jilid 2, hal. 306, beliau berkata: “Ada tiga cara membaca amin lainnya yang syazzah, yaitu pertama, membaca “a” pendek, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Tsa’lab dan beliau menyebutkan syahidnya. Hal ini diingkari oleh Ibnu Darastawaih, dan beliau mengatakan bahwa syahid terhadap “a” pendek adalah sebagai pertimbangan kebutuhan syair. ‘Iyyadh dan orang-orang yang mengikutinya menyampaikan dari Tsa’lab bahwa beliau hanya membolehkan “a” pendek hanya pada syair. Adapun bacaan syazzah yang kedua dan ketiga adalah, adanya tasydid pada huruf Mim, baik “A” dibaca panjang maupun pendek. Dan kedua bacaan terakhir ini telah disalahkan oleh sekelompok ahli bahasa Arab.”
3. Cara Baca Ketiga
“A” dibaca panjang dengan imalah dan tanpa ada tasydid pada huruf Mim. Dalam kitab at-Tibyan fi Adab Hamalatil Quran, hal. 129, Imam an-Nawawi menukilkan cara baca seperti ini dari Imam al-Wahidi dari Imam Hamzah dan dari Imam al-Kisai.
4. Cara Baca Keempat
“A” dibaca panjang dan ada tasydid pada huruf Mim. Imam an-Nawawi menukilkan ini dari Imam al-Wahidi. Imam al-Wahidi menukilkan cara baca ini dari al-Hasan al-Bashri dan Husain bin al-Fadhl. Dimana makna amin seperti ini menjadi “Kami menuju pada-Mu ya Allah dan Engkau Maha pemurah sehingga Engkau tidak akan mengecewakan orang yang menuju pada-Mu.”
Namun Imam an-Nawawi mengatakan bahwa membaca tasydid pada huruf Mim adalah bacaan yang syazzah, mungkarah dan tertolak. Imam Ibnus Sikkit dan para ahli bahasa Arab lainnya mengatakan bahwa membaca tasydid pada Mim adalah kesalahan yang dilakukan oleh masyarakat awam. Al-Qadhi Hussain berkata bahwa membaca tasydid pada Mim adalah kesalahan pertama yang terdengar dari al-Hussain bin Fadhl ketika beliau masuk ke Khurasan.
Namun, jika dibaca seperti ini, apakah membatalkan shalat? Ulama berbeda pendapat. Dalam kitab al-Majmu’ jilid 3 halaman 370, Imam an-Nawawi berkata, bahwa para ulama mengatakan jika dibaca seperti ini maka shalatnya batal. Sementara dalam kitab al-Iqna’ karangan al-Khathib asy-Syarbini, jilid 1 halaman 143, beliau berkata, bahwa bacaan seperti ini tidak membatalkan shalat, karena maksudnya adalah doa.
Dari keempat bacaan ini, maka bacaan amin yang paling utama adalah “a” dibaca panjang, “min” dibaca panjang dan tidak ada tasydid pada huruf Mim. Ini adalah yang paling fashih, masyhur dan yang paling baik menurut Imam an-Nawawi dan lainnya. Dan bacaan “a” panjang ini juga memudahkan makmum untuk mengikuti imam dalam mengucapkan amin.
Panjang Harakat Amin
Pertanyaan, berapakah panjang “a” dan “min”? Ada yang mengatakan bahwa “a” dibaca sepanjang Mad Ashli atau Mad Thabi’i yaitu dua harakat. Sementara “min” dibaca sepanjang Mad ‘Aridh lis Sukun, yaitu boleh 2 atau 4 atau 6 harakat. Perkataan seperti ini disesuaikan dengan hukum tajwid pada kata amin.
Membaca amin sesuai dengan ilmu tajwid ini boleh-boleh saja. Akan tetapi, bukan berarti tidak sesuai dengan ilmu tajwid tidak boleh. Karena kata amin bukanlah al-Quran. Sementara ilmu tajwid itu ruang lingkupnya hanya al-Quran saja. Sehingga, panjang amin tidak diikat oleh teori tajwid. Dia hanya diikat oleh kaidah bahasa. Jika secara bahasa dianggap benar, maka bacaannya benar. Jika salah, maka salah.
Maka, “a” dibaca panjang, lebih dari dua harakat juga boleh. Kemudian, “min” dibaca panjang, tidak sesuai dengan panjang Mad ‘Aridh lis Sukun juga boleh. Yang penting, “a” panjang, “min” panjang dan tidak ada tasydid pada huruf Mim.
Baca juga: Waktu-waktu Ijabah Untuk Berdoa Agar Cepat Dikabulkan
Amin Orang Aceh?
Jika kita melihat amin-nya orang Aceh selama ini, “a” dan “min” dibaca panjang, tidak ada tasydid pada huruf Mim, dengan mengangkat suara, maka itu sudah benar. Jik ada tasydid pada huruf Mim, seperti bacaan sebagian orang, maka sebagian ulama mengatakan shalatnya batal, sebagian tidak. Maka, untuk berhati-hati, tasydid pada huruf Mim sebaiknya ditiadakan. []
Penulis: Muhammad Yasin Jumadi, Lc.